Saturday, October 20, 2018

Asing


Dalam hidup sering banget orang asing yang kelak akan kecantol menjadi teman. Kayak dijalan, sama-sama pengendara motor kalo di lampu merah ada aja yang ngajak ngobrol, ngajak becanda, ngajak ngopi, tapi yang ngopi engga kayaknya deh. Kayak hari kamis tanggal 11 Oktober 2018 ini, main bola di sebuah taman belakang sekolah, ada aja yang ngajakin main bareng, dari yang engga kenal jadi kenal, yang tadinya diem-diem jadi ngerokok bareng. Ada-ada aja lah.

Balik dari taman, matahari telah terbenam, lantunan adzan telah bergema, dan jam menunjukkan pukul 6an. Kami pulang, selepas pulang dalam perjalanan terlihat seorang mbak-mbak yang kayaknya sepantaran sama gua melakukan selebrasi setelah turunan dan melepas kedua belah tangannya. Menunggangi kuda besi merk honda vario, berwarna hitam corak merah.

Hati kecil berbisik, kalo jatohkan ga lucu mbak. Dengan berbangga hati, gua salip dari arah kiri, sebab si mbaknya tepat di tengah jalan, perbatasan dari perlawanan arah. Gas pol lalu sen kiri. Lalu setelah sen kiri, ada tanjakan. Lepas dari tanjakan gua melepaskan kedua belah tangan, seperti si mbak ini. Menandakan score kita 1-1.

Engga nyampe situ, ada polisi tidur yang pinggirnya ada lobang gua menerobas serta mendahuluinya, menandakan 2-1. Engga disitu juga, dua kali ada polisi tidur yang seperti itu yang menandakan 4-1. Telak dan hampir deket rumah, akhirnya gua melipir ke badan jalan dengan kecepatan yang tidak tinggi. Secara mengejutkan si mbak mendahului gua dengan kaki yang hampir menyentuh stang motor. Ibaratnya kayak mau akrobatik gitu. Gua tersenyum lepas disitu, sembari menggelengkan kepala karena heran, perempuan gila macam apa itu.

Belum sempat melihat wajahnya karena tertutup penutup mulut, namun gua udah tau rumahnya. Gua harap kita saling sapa, saling tau, dan saaaliiiiiingggg, udah lah. Dah. Udah. Engga selamanya orang asing benar-benar asing. Coba lemparkan hal yang membuat tawa, kalo engga bisa, coba lemparkan anak panah, kalo kena kepalanya kan lumayan. Sekian.

Saturday, September 8, 2018

Nabung



Gue tipikal orang yang banyak mau.  Apa-apa gue pengen. Apa-apa gue mau. Tapi satu hal pun ngga ada yang tercapai. Banyak yang pengen gue mau, kayak punya drone, slr, jalan-jalan, sama kamu. Iya, pengen kamu. Tipikal orang yang kayak gue ini susah. Apa-apa aja mau. Ibarat kata kayak liat orang gambar pake pentab. Akhirnya gua beli, harga 300ribu. Baru 2 minggu udah bosen.

Ngga cuman pentab. Gue juga pengen punya aquarium yang ada filter airnya. Rencana sih kayak bikin aquascape gitu. Tapi apa daya, gue beli ikan di pasar deket rumah, beli goceng dapet 15 biji, sehari mati semua. Ngga cuman itu. Gue juga suka banget sama jalan-jalan. Menurut gue itu adalah hal yang seru, asik, dan sesuatu yang baru. Apa lagi ke tempat yang belom pernah di kunjungi sebelumnya.

Contoh Aquascape

Ngga kebayang gue kalo punya uang banyak. Apa-apa pasti gue beli. Misalnya gue pengen bakso cuangki, gue beli segrobak-grobaknya, abangnya juga sekalian gue borong. Tapi ya gitu, ekspektasi tak seindah realita. Semenjak apa yang gue mau jarang terwujud, gue jadi takut membuat ekspektasi setinggi-tingginya. Takut kalo ngga kesampean sakit hati, stress, gantung diri~.

Buat gua nabung adalah hal tersulit kedua setelah kode dari si cewe nyampe ke si cowo. Nabung menjadi aktivitas yang ngebosenin banget. Pengen apa-apa harus ditahan-tahan. Pengen itulah, pengen inilah, pengen kamulah. Huft. Apa bener yang diperjuangkan diawal akan manis di akhir? Mungkin nabung adalah jawabannya. Dari sekian kali uang yang berhasil gua tabung, habis dalam sehari. Entah jajan apa, entah belanja apa. Yang jelas mata gua di manjakan, hati gua puas, dan dompet yang ngepas.

Perjuangan di awal dan hasil akhir yang manis jadi kepikiran di kepala. Apakah harus diperjuangin? Perjuangin buat siapa? Orang yang diperjuangin tau engga? Suka heran dengan diri sendiri. Ini gua hidup buat siapa sih?. Eneg kadang hidup yang gini-gini aja. Kemaren baru aja kayaknya dengerin ustad ceramah jum'atan. Eh besok udah mau jum'atan lagi. Ini bener-bener dah. Buat bingung banget.

Sekarang udah kelas 12. Lulus mau kemana pun gua engga tau mau kemana. Kuliah? Kerja? Engga tau cok. Hari-hari yang gua jalanin gua bawa enteng aja. Kadang mikir, cepet kek hari " ini ", biar engga ketemu " itu ". Pikiran dah. Kadang malem kalo engga bisa tidur ya gini, mikirin diri sendiri mau jadi apa. Apa-apa mau. Ini mau, itu mau, sama kamu juga mau. Aku tuh heran tau engga?. Fix, bingung asli gua. Oy Danang di masa depan. Tahun-tahun ini lu lagi bingung mau kemana. Lu sekarang gimana? Sehat ya? Anak dah gede-gedekan? Bini ama yang itukan, yang dari dulu lu suka? Ya kan?. Dulu lu goblok woy. Asal lu tau aja. Yee, udah dulu. Kayak orang gila nulis sendiri buat di baca sendiri.

Gua jadi inget kata-kata kang parkir deket sekolah gua, " Bad Day pasti berlalu ". Entah kenapa kata-kata itu nempel dibenak gua saat kang parkir pake topi tulisan itu. Setiap kali gua mikir ada Bad day, ya gua mikir gitu, " PASTI BERLALU ". Terimakasih kang parkir URINDO yang di bayar 2ribu auto ngegas yang menjadikan motivasi buat gua.


" Apa-apa perlu uang. Tapi uang, perlu apa-apa ".

Friday, July 20, 2018

Quality Time


Siang hari di tepi pantai Jakarta. Bukan berenang, bukan liburan, hanya saja melepas penat dari kamar yang begitu-gitu saja. Ramai berbondong-bondong orang-orang ke pantai. Sementara saya, hanya seorang diri. Merasa sepi di keramaian. Merasa sendiri di tengah banyaknya orang.

Berbekal uang sisa thr, uang sisa PKL dan uang kas serta tekad yang bulat, saya rasa ini jalan yang terbaik yang dibuat oleh-Nya. Duduk di bebatuan tepian pantai menunggu senja sambil menikmati teh botol sosro dingin yang baru saja di ambilkan oleh mbak-mbak pedagang minuman. Terdengar jelas alunan lagu yang tidak saya ketahui. Sambil merebahkan kaki yang sudah terhitung 4x muter-muter pantai yang capeknya bukan main. Serasa telapak kaki tertusuk-tusuk, betis yang mengeras, dengkul yang pegal, dan pinggul yang ingin copot.

Rencana hari ini ingin menikmati pantai saat malam hari. Mudah-mudahan di lancarkan. Hari ini saya cukup senang dan cukup sedih. Senangnya bisa keluar rumah, dan yang sedih, harus sendirian. Lagi-lagi sendiri menemani. Tak luput, bosan dan sepi ikut menghampiri.

Andai saja ada yang menemani. Pasti jauh lebih baik dari ini. Ingatlah Danang. Tepat pada sabtu, 14 juli 2018, tepat jam 12:54 kamu pernah panas-panasan di Ancol, sendirian, di ujung pantai, persis di depan dermaga dan tentunya, menulis ini.

Monday, July 9, 2018

Rumah Kosong



Tepat di daerah Depok pinggiran tapi masuk kabupaten Bogor, yang dimana daerah tersebut asri dan agraris. Terdapat lahan bekas perkebunan pohon karet. Sekian tahun lahan tersebut subur hingga berbuah manis bagi sang pemilik. Sampai dimana titik bermunculan macam perumahan yang banyak dan ingin memiliki lahan tersebut karena di anggap strategis. Dan pada akhirnya terjadilah ijab qobul antara pemilik lahan dengan sang developer perumahan tersebut. Dibangunlah rumah-rumah dari yang minimalis, harmonis, hingga terlalu manis, kayak kamu gitu~. Selang beberapa tahun, sudah banyak sekali rumah-rumah yang kalo dilihat dari jauh seperti rumah monopoli, berbaris serta berjajar rapih di pinggiran kali, yang sekarang salah dari beberapa rumah yang ada, di tempatin gua. Sejak gua sd gua tinggal disana, dari seluk beluk serta tetek-bengeknya gua tau. Mulai dari mitos-mitos yang ada, hingga di ada-ada.

Pada akhirnya beberapa rumah mulai terisi, terlihat kalo ada yang nonton iklan agung podomoro sang developer pengen kayak gitu. Tapi ekspektasi tak sesuai dengan realita, yang ada rumah-rumah tersebut sedikit yang mengisi dengan alasan jauh dari mana-mana, padahal kata sang developer lahan tersebut sangatlah strategis, kenyataannya tidak. Paling ngga punya motor sudah cukup untuk bepergian dari luar menuju ke perumahan. Beberapa rumah coba gua kenali, dan perlahan gua mulai berteman dengan lingkaran baru, zona baru, dan tempat baru. Gua bertemu Juan saat dimana ia asik naik sepeda depan rumah gua dengan gaya ala-ala Downhill Ps2. Sekarang Juan hanya jadi teman kecil gua. Padahal dulu sering bermain dengannya, mulai dari bermain bersama, dari warnet, bola, hingga wanita. Sekarang hanya saling tegur sapa serta senyum, menandakan gua masih care terhadapnya. Juan adalah anak dari bapak dan ibunya, pengusaha warung seafood. Yang gua suka ada mie ayamnya. Mienya enak banget ada mie pastinya, ada pangsit rebus yang daging di tengahnya banyak, ada sawi yang masih sangat hijau, yang mau order boleh ke 08166373xxxx. Kok promosi?

Sudah lama sekali Juan menempati rumahnya, tapi masih lamaan gua sih, ya pokoknya lama, sekitar 4-5 tahunan. Bapak dan ibunya sudah lama membuka warung seafood tersebut. Tapi nasib tak selalu baik, warung seafood tersebut tutup, entah karena apa. Sudah lama tidak bermain dengan Juan, hanya sekedar sapa hingga senyum formalitas. Hingga pada akhirnya, baru-baru ini gua liat ngga ada lagi rutinitas masak-masak di rumahnya, ngga ada lagi jemuran baju yang tersangut di tali jemuran. Entah kemana rutinitas yang selama ini mereka bangun. Ngga pernah terdengar lagi suara motor dari halamab rumahnya.

Dan setelah kepergian Juan yang entah kemana, baru-baru ini juga terlihat aktivitas yang baru, sepertinya ada warga baru. Rumah yang baru di renovasi telah terisi. Aktivitas tersebut sangat ramai, banyak orang, banyak yang tertuju rumah tersebut. Iseng melewati rumah tersebut setelah sholat di siang hari yang di awali khutbah tadi. Ternyata Juan pindah rumah. Fak, gua kira kemana, ternyata ga jauh, hanya berjarak 5-6 rumah dari rumah lamanya.

Gua ikut seneng dengan rumah barunya, walaupun gua belom pernah menginjakkan kaki ke rumah barunya tersebut. Banyak kenangan di rumah lamanya yang sekarang di museumkan. Mulai dari gua yang di kejar anjing miliknya, makan-makan di rumahnya, nonton film bareng disana. Ngga ada lagi suara terkekeh-kekeh, ngga ada lagi gelak tawa, tersenyum pun tidak, mengakat sedikit bibir gua untuk senyum pun ngga ada. Gua setuju jika rumah tersebut benar-benar di museumkan.



Note : ini hanya fiktif belaka yang telah gua sunting sedemikian rupa hingga menjadi cerita kenangan dengannya.
x

Tuesday, June 26, 2018

Sarang


Bukannya hanya tempat tinggal, melainkan berteduh, berbagi kasih, hingga berbagi cerita. Kecil atau besar bukan jaminan untuk membentuk jalinan kasih, tetapi orangnya yang membentuk itu. Rumah saling akrab dengan penghuninya. Tanpa penghuni, rumah bagai kue lebaran yang hanya tersisa toplesnya saja. Buat apa dipajang sementara tiada isinya.

Ibarat tanah adalah pohon, rumah adalah sarang, dan burung adalah orang. Sang ayah yang harus mencari cacing untuk anak serta istrinya. Begitu juga dalam rumah. Senantiasa mencari ranting pohon untuk memperindah sarangnya.

Alhamdulillah, 2018 mudik. Berjumpa dengan sanak saudara yang sudah lama sekali tidak dijumpai. Temu kangen, bercengkrama, nonton bareng piala dunia, senang rasanya. Berkomunikasi membuat saling paham, saling tahu, saling mengerti. Senang rasanya mendengar kabar baik dari khalayak saudara.

Walau terpaut waktu serta jarak membuat saya merasa sedih. Sedih dikarenakan tidak bisa lama bertemu, Sedih tidak bisa menjelajah kotanya, sedih tidak bisa saling bercanda lagi bercengkrama. Jaga baik-baik anggota di rumah, nurut, patuh aja sama yang lebih tua. Kelak, jikalau mereka tidak ada, sepi lah rumah. Bagai ayam tanpa berkokok, anjing tanpa gonggongan, dan aku tanpa kamu.

Sekali-kali saya nulis dengan gaya seperti ini. Jarang-jarang saya bisa menyampaikan perasaan saya melalui tulisan dengan gaya yang ngga gua banget. Hahaha. Sekian.

" Dan bagiku rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga berteduh, berbagi kasih, juga berbagi cerita ".